Kamis, 09 Juni 2011

3rd

“Din, tolong ambilin sepatu gue donk. Ada di bawah ranjang kamar gue”, suruh andra…
“ lu punya kaki ama tangan kan..? ambil sendiri aja sih…” balas Andini
“payah lo ahh, gue minta tolong juga…” kata andra
Andini hanya diam…memasang tampang kesal…

Namanya andini, andini putri …
Anak pertama dari 2 bersaudara.
cewek dengan rambut sebahu ini biasa di panggil putri di sekolahnya, namun dirumah ia biasa di panggil dini…pemalas, jarang mandi, dan semberono sudah lekat dengan dirinya..

Di atas sofa coklat yang berada di ruangan tengah, andini duduk sambil sesekali memencet remote televisi…
“sialan, hari sabtu ga ada siaran yang bagus apa ya….” Andini kesal..
Sejak sejam yang lalu ia berada di depan televisi 21” itu, sibuk mengganti-ganti saluran mencari saluran yang sesuai dengan seleranya, KARTUN….
Andini memang the big fans of kartun, namun tidak semua kartun bisa ia tonton…hanya beberapa saja…dari hobinya yang senang menonton kartun itu, ia juga suka membuat gambar kartun…hampir di setiap celah kosong di tembok kamarnya yang hanya 3x3 meter itu ia tempelkan hasil karya gambar kartunnya…cat berwarna biru yang menjadi warna tembok kamarnya sudah tak dapat terlihat lagi karna telah tertutupi oleh banyak kertas…
Alhasil, kamar anak perempuan satu2nya di rumah itu tidak layak di sebut sebagai kamar anak perempuan…mungkin lebih cocok di sebut sebagai ruang bawah tanah…
Jarang sekali tirai berwarna kuning itu terbuka dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalamnya…
Hawa yang lembab, cahaya yang minim dan pakaian kotor yang berserakan dimana2, serta bermacam-macam jenis komik bergeletakan di sana-sini menjadi pemandangan khas kamar tersebut..

“din, beresin kamarmu tuh…ibu lihat udah kayak kapal pecah..” suruh ibuku..
“bentar lagi bu, nanggung…kartunnya bentar lg habis…” jawabku Sambil memperhatikan televisi dengan tatapan yang serius.
Jam telah menunjukan pukul 09.00 pagi, namun aku
belum mandi maupun sarapan…apalagi gosok gigi
Setelah bangun tidur pukul 06.30 tadi, aku langsung menuju ke ruang tengah, mengambil remote control dan segera menyalakan tv..mencari chanel yang biasa memutar film kartun…
Selama kurang lebih 2 jam aku disana..pencarianku gagal, karna tidak ada yang sesuai seleraku…
Dengan langkah yang berat, akhirnya aku memutuskan untuk segera kembali ke kamar...berniat membereskan segala sesuatu yang ada di dalam kamarku..
“astaga, benar kata ibu…kamarku lebih mirip kapal yang habis di serang teroris..” aku berkata dalam hati…
Dengan semangat yang menggebu-gebu akupun segera memulai membereskan semuanya…
Pukul 10 lewat 20 menit.
”hmmmmm…” ku hirup udara yang masuk melalui jendela kamarku
Aku berdiri tepat didepan jendela kamarku, tirai ku lepas agar udara segar yang selama ini terkurung diluar sana dapat masuk menelusuri setiap celah di kamarku...
“din, sarapan dulu sana…udah ibu siapin di meja makan….”suruh ibuku sambil melepas celemek yang masih terpasang di badannya…
“ibu mau ke rumah om ari, kalo mau keluar rumah bawa kunci rumah…”
“nanti sore ibu baru pulang”
“iya bu, nanti aku mau keluar sama nala…mau jalan-jalan…” jawabku sambil membereskan sisa2 pekerjaanku…
“yasudah, jangan lama-lama…nanti malam bantuin ibu masak” ujar ibuku yang segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap..
Di rumahku besok akan diadakan arisan ibu2 komplek tempat aku tinggal, makanya ibuku sibuk sekali hari ini untuk mempersiapkan acara besok.
Ku ambil handuk hijau yang menggantung bersama para handuk lainnya di jemuran yang ada di belakang dapur, dan segera masuk kedalam kamar mandi….
“din, ibu pergi dulu” ku dengar ibu setengah berteriak…“jangan lupa kunci pintu kalo mau pergi”
“okay…”balasku berteriak…


“Berharaplah jika kalian yakin…
Hati-hati Semua tak seperti yang kalian bayangkan…
Kadang terjadi, kadang tidak…
Yakin saja tidak cukup…
Hati-hati…kadang hati berbohong…” halaman 1



Ternyata memang benar kata ibuku..jakarta sedang panas-panasnya…
Aku berjalan kearah tempat pengambilan bagasi, sambil sesekali mengusap wajahku yang basah oleh keringat..
Cuaca di Jakarta memang berbeda jauh dengan London, “aku harus membiasakan tinggal dengan cuaca seperti ini” kataku dalam hati..bukan hanya cuaca, semuanya…aku harus terbiasa…
Kulihat travel bag hitam dengan tulisan POLO berukuran besar segera menghampiriku yang sudah menunggu hampir 15 menit di tempat pengambilan bagasi yang berada tepat sejajar dengan pintu keluar, sehingga terlihat banyak para penjemput yang menunggu di depan pintu keluar.
Kuangkat travel bag milikku lalu kunaikan ke atas troli yang di sediakan bandara dan menuju pintu keluar, menuju kerumunan orang yang berteriak menawarkan jasa taksi, hotel, sampai biro perjalanan.


hehehe...kepotong lagi deh....
sabarrrrr..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar